Kategori: COACHING & CONSULTING

  • BRAND (MERK)

    brandingPernahkah Anda ditanya, “Anda bisnis apa?”

    Lalu Anda menjawab, “Warung kopi”.

    Merk-nya apa?”

    “Pokoknya warung kopi”

    Menarik tidak? Tentu saja tidak.

    Ketika Anda ditanya, “Anda punya bisnis apa?”

    “Warung makan”

    “Namanya apa?”

    “Pokoknya warung makan”.

    Menarik? Tentu tidak. Coba bedakan dengan yang berikut ini.

    Ketika ada seseorang bertanya, “Anda punya bisnis apa?”

    “Warung kopi”

    “Namanya apa?”

    “Semerbak Kopi”

    Lebih menarik bukan? Atau ketika Anda ditanya tentang usaha Anda,

    “Rumah makan”

    “Namanya apa?”

    “Nikmat Catering”

    Lebih nyaman bukan? Hal ini sama ketika Anda ditanya tentang Anda laki-laki atau perempuan.

    “Saya laki-laki”

    “Nama Anda siapa?”

    “Pokoknya laki-laki”

    Tentu tidak menarik bukan? Bedakan dengan yang berikut ini,

    “Anda laki-laki atau perempuan?”

    “Laki-laki”

    “Nama anda siapa?”

    “Budi”

    Nah tentunya lebih menarik, bukan?

    Demikian juga dengan bisnis. Sebuah produk membutuhkan sebuah nama (brand/merk).

    Nama (brand/merk) supaya powerful, ada 3 pilar rahasianya:

    Yang pertama, singkat.

    Usahakan nama bisnis atau nama produk Anda singkat, jangan terlalu panjang. Misalnya usaha bimbingan belajar. Anda beri nama yang singkat, misalnya “Smart Bimbel”. Atau usaha Anda di bidang fotografi. Anda beri nama “Bening Fotografi. Singkat. Karena jika terlalu panjang, orang akan sulit mengingat. Di jaman yang penuh persaingan seperti ini jangan paksa orang untuk mengingat nama panjang produk Anda. Sama dengan nama orang hari ini, jika terlalu panjang menjadi sulit di ingat.

    Yang kedua, sesuai dengan  jenis usaha.

    Misalnya ketika Anda punya usaha perumahan. Berilah nama yang mewakili kondisi perumahan, misalnya “Griya Asri”. Jangan sampai Anda punya usaha perumahan, diberi nama “Nikmat”, tentunya tidak sesuai. Contoh lain, Anda punya usaha design. Usaha design yang saya jalankan, bernama “Immage”.

    Yang ketiga, unik.

    Kenapa unik? Tentu agar tidak sama dengan yang lain. Hari ini semakin unik brand Anda, semakin mudah orang mengingat Anda, namun ketika bicara unik, sebenarnya sedikit melanggar aturan yang kedua di atas. Contohnya, saya punya klien memiliki rumah makan bermerk “Nelongso”. Mungkin Anda bingung rumah makan kok namanya “Nelongso”. Tapi, hebatnya, rumah makan ini sudah ada 7 outlet yang beromset milyaran rupiah per bulan.

    Tiga pilar tersebut menjadi penting ketika Anda mau membuat sebuah produk/bisnis. Jika merk produk/bisnis Anda sudah memenuhi tiga pilar/syarat tersebut, berarti nama produk/bisnis Anda sudah tepat.

    Salam sukses.

  • PROMOTION

    The-Five-Ps-of-Marketing_Product-Place-Promotion-Price-Profit_35600Suatu saat tersebutlah seorang gadis cantik di puncak gunung, di dataran yang tinggi, sangat cantik. Saya yakin jika Anda tahu, Anda akan mau menikahinya. Tetapi, orang-orang heran kenapa sampai usia 30 tahun dia belum menikah, bahkan sampai 35 tahun belum menikah. Setelah diteliti ternyata gadis ini sangat pemalu. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa dia ada, yang tahu hanyalah orang tuanya. Maka sampai kapanpun, saya yakin dia tidak akan menikah.

    Bagaimana dengan produk atau bisnis Anda? Jangan-jangan bisnis atau produk Anda bagus, kemasannya juga sudah bagus, tetapi orang tidak tahu tentang produk Anda.

    Maka, lakukanlah promosi yang masif, bangunlah pola-pola marketing yang luar biasa. Jaman sekarang ada marketing online dan marketing offline. Saran saya anda lakukan dua-duanya, karena semuanya punya segmen yang berbeda-beda. Ada orang yang fanatik hanya melakukan online marketing dan melupakan offline marketing atau sebaliknya,ada orang yang fanatik dengan offline marketing dan meninggalkan online marketing.

    Beberapa perusahaan, rata-rata mengandalkan minilmal 10% dari profitnya untuk marketing itu. Ada marketingnya berupa iklan di televisi, ada yang berupa iklan di koran, dsb. Sudahkah Anda menganggarkan keuntungan usaha Anda untuk marketing. Jangan-jangan selama ini semua keuntungan usaha Anda habis untuk Anda nikmati sendiri dan untuk kebutuhan Anda.

    Sekali lagi, marketing is everything, marketing adalah segalanya. Mungkin Anda ingat, pernah ada sebuah merk mie instan baru. Marketing dan promosinya luar biasa, sampai menjadikan merk mie instan yang lama kehilangan pasarnya. Ada merk kopi yang baru, karena pola marketing yang luar biasa bisa menyedot hampir 30% omset atau market dari produk-produk kopi yang lama. Walaupun mungkin orang bilang, belum tentu yang baru itu lebih enak, tapi inilah bisnis.

    Jadi, sudahkah Anda menganggarkan biaya untuk marketing anda? Uang, tenaga dan pikiran. Sudahkah Anda rekrut tim untuk melakukan pola-pola marketing yang dahsyat?

    Jika belum Anda lakukan, saya pastikan bisnis Anda tidak akan berkembang, bahkan bisa jadi bisnis Anda akan terlupakan.

    Selamat merencanakan pola marketing yang terbaik. Dan ingat, rekrutlah orang-orang marketing yang profesional.

    Sukses untuk Anda.

  • PACKAGE

    packaging-600x401Misal suatu saat Anda temukan sebuah produk yang enak, akan tetapi kemasan atau package-nya buruk, kira-kira berapa orang yang mau membelinya?

    Permisalan yang kedua, Anda temukan produk yang rasanya tidak enak, tapi kemasannya bagus. Kira-kira berapa orang yang mau membeli produk tersebut?

    Yang ketiga, sebuah produk yang kemasannya bagus dan kualitas rasanya pun bagus. Kira-kira berapa banyak konsumen yang mau membeli produk tersebut?

    Mari kita bahas satu persatu. Produk yang pertama, biasanya yang mau membeli adalah konsumen dari kelas menengah ke bawah, yang tidak peduli dengan kemasan, yang penting rasanya enak. Namun, bagi konsumen kelas menengah ke atas pasti sangat memperhatikan yang namanya kemasan dan kualitas rasa dari sebuah produk.

    Nah, bagaimana dengan produk yang kedua? Kemasannya bagus tapi kualitas isi atau rasanya tidak enak. Tentunya produk semacam ini lama kelamaan akan ditinggalkan juga.

    Anda tentu pernah mendengar filosofi Jawa, “ajining raga saka busana”. Banyak rekan-rekan pebisnis yang pada awalnya memiliki produk yang biasa saja kemasannya, jadi segmennya hanya di level tertentu, rata-rata menengah ke bawah. Padahal produknya enaknya luar biasa. Lalu, begitu beliau packaging ulang dan dikemas dengan kemasan yangn menarik, segmennya menjadi meluas, mulai dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas.

    Ada perbedaan diantara konsumen menengah ke atas ketika mereka hendak membeli produk. Selain rasa, mereka juga mengutamakan kemasan. Walau kita semua tahu mereka tidak akan memakan kemasannya, tetapi itulah image atau umumnya disebut status sosial. Coba anda perhatikan, misalnya orang-orang yang makan di McD atau di tempat makan sejenisnya. Sebenarnya rasanya tidak jauh beda, bukan? Tapi karena packaging di McD lebih menarik, maka orang pun bangga ketika mereka menceritakan sedang makan dimana.

    Dari sini, tentunya Anda sudah mulai memahami pentingnya packaging, bukan? Banyak rekan pebisnis yang menata ulang packaging produk-produk mereka, dan mereka bisa meraup omset berlipat-lipat dibanding sebelum kemasan produk mereka di repackaging.

    Mungkin anda bertanya, jika produk di package dengan kemasan yang lebih bagus, bagaimana dengan harganya, pasti akan kehilangan konsumen kelas menengah ke bawah? Maka, disinilah Anda boleh mempertimbangkan tetang packaging produk anda. Tentunya, Anda harus berpikir cerdas bagaimana dengan kemasan yang baru, harga produk Anda tidak beda jauh dengan produk dengan kemasan lama. Karena Anda tetap  membutuhkan konsumen dari kedua segmen tersebut.

    Selama produk Anda bagus, kemasan produk bagus, dan harga produk Anda masih rasional, maka produk Anda akan menembus semua segmen konsumen.

    Selamat mencoba.

  • SELLING

    selling-ebooks-660x320

    Dalam dunia marketing kita mengenal istilah “selling”. Anda tentu pernah melihat seorang SPG rokok yang berkeliling menawarkan rokok kepada masyarakat, atau SPG mobil yang berkeliling dari kantor ke kantor untuk menawarkan produknya, atau yang sering kita lihat adalah SPG sebuah produk susu fermentasi, mereka masuk dari rumah ke rumah, atau mereka memasarkan produk di sebuat event. Itulah adalah beberapa contoh dari kegiatan selling.

    Misalnya lagi, pemilik rumah makan meminta tim marketingnya untuk berkeliling membawa tester makanan dari kantor satu ke kantor yang lain. Contoh lain, tim outbound seperti yang saya punya, membawa proposal/brosur dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, atau lembaga bimbingan belajar masuk dari satu sekolah ke sekolah yang lain, itulah selling.

    Lantas apa bedanya antara branding, marketing dan selling?

    Jika boleh saya bedakan, branding itu membangun image (soft selling), memasukkan ke otak bawah sadar konsumen bahwa produk tersebut masih eksis. Sedangkan marketing adalah sebuah prolog yang menjadikan konsumen menjadi penasaran untuk mengetahui lebih jauh apa yang kita tawarkan. Lalu selling adalah proses menjelaskan tentang apa yang sudah dibangun image dalam branding, apa yang sudah diprolog di marketing. Jadi, selling adalah ujung tombak pemasaran produk yang sudah di-branding dan di-marketing-kan oleh tim.

    Seberapa kuatkan efek selling dalam bisnis?

    Di Kota Malang, ada banyak kampus yang brand-nya tidak kuat, marketing-nya pun biasa, tapi selling-nya luar biasa. Mereka datang ke Indonesia bagian timur dan mereka tawarkan berbagai fasilitas, dan hasilnya dahsyat. Kampus ini memiliki mahasiswa yang cukup banyak.

    Jadi, ketika brand Anda kurang kuat atau marketing Anda kurang kuat, tidak ada salahnya Anda mencoba untuk menajamkan tim selling anda, karena selling adalah ujung tombak untuk mendekat kepada konsumen atau calon konsumen. Disana mereka bisa berinteraksi untuk memperjelas nilai tawar produk Anda. Jika ada komplain atau keluhan, tim bisa segera sampaikan ke pimpinan untuk di-create menjadi tambahan-tambahan fasilitas. Proses inilah yang mempercepat terjadinya closing.

    Jadi, maaf jika Anda hanya memgandalkan branding dan marketing itu berarti Anda masih dilangit. Tapi, jika Anda mempunyai tim marketing yang hebat, ibaratnya Anda mempunyai pasukan tempur yang bergerilya hari demi hari ke semua segmen pasar.

    Sekarang ini banyak orang yang perlu kejelasan, perlu detail, perlu didengarkan dan tim sales memiliki kemampuan untuk mendengarkan, melakukan design ulang terhadap permintaan dan memberikan penjelasan dari sekian banyak pertanyaan.

    Selamat mencoba dan menikmati kedahsyatan omset bisnis anda.

  • NETWORKING

    network-1Jika seseorang menawari Anda sebuah produk dan ada orang lain yang juga menawari produk yang sama persis dengan produk orang yang pertama, kira-kira Anda akan memilih untuk membeli pada siapa? Orang pertama adalah orang yang Anda kenal dan berada dalam komunitas yang sama dengan Anda, sedangkan orang yang kedua tidak Anda kenal. Anda sudah tau jawabannya, bukan? Pasti Anda akan memilih orang yang pertama, yaitu orang yang Anda kenal. Karena antara Anda dan rekan sekomunitas tersebut, anda sudah mempunyai trust dengan teman Anda tersebut.

    Konsumen sering membeli karena dua alasan tersebut, trust dan loyalitas.

    Misalnya, saya punya usaha suplier ayam. Lalu, tim saya menawarkan ke sebuah warung. Segala macam cara sudah ditempuh oleh tim untuk menawarkan produk kami kepada warung ini, akan tetapi warung ini susah sekali ditembus. Mengapa hal ini terjadi? Pertama, karena warung ini belum punya trust dan yang kedua, karena pemilik warung lebih loyal kepada suplier yang lama, karena suplier lama adalah rekan sekomunitas dengan pemilik warung.

    Sudahkah hari ini Anda punya komunitas, organisasi, networking?? Jika belum, maka Anda sebagai business owner, mulai sekarang targetkan untuk bergabung di suatu komunitas atau organisasi. Bangunlah networking Anda, sehingga Anda memiliki semakin banyak orang yang memiliki trust dan loyal kepada Anda.

    Tentunya Anda juga harus memikirkan konstribusi apa yang bisa Anda berikan untuk organisasi atau komunitas yang Anda putuskan untuk bergabung. Maka, cepat atau lambat Anda akan mendapatkan benefit (manfaat) dari organisasi atau komunitas tersebut. Akan tetapi, jangan sampai Anda hanya ingin mendapatkan tanpa mau berkontribusi. Pastikan Anda dikenal baik di komunitas Anda, pastikan orang tahu produk Anda dan mereka tahu kelebihan Anda dan apa yang Anda bisa berikan kepada mereka.

    Selamat bergabung dalam komunitas dan berikan yang terbaik.

  • HOW TO START A BUSINESS

    eduardostartingbusinessPernahkah Anda bertanya bagaimana cara mengawali sebuah bisnis?

    Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi banyak orang sampai detik ini bingung menentukan bisnis apa yang akan dijalankan.

    Sebenarnya, cara mengawali sebuah bisnis sangat sederhana. Yang pertama, Anda harus memastikanbahwa bisnis Anda bisa memenuhi kebutuhan orang. Disekitar kita, misalnya, banyak orang yang butuh sandang, maka Anda bisa memilih untuk berbisnis busana. Ketika banyak orang butuh jilbab, Anda bisa memulai membuka bisnis jilbab. Ketika banyak orang membutuhkan seragam kantor (kaos/baju), maka bisnis seragam kaos/baju bisa dijadikan salah satu alternatif bisnis. Ketika Anda tinggal di lingkungan kampus, misalnya, banyak mahasiswa yang membutuhkan makanan, maka warung makan bisa menjadi salah satu bisnis. Contoh lain, perumahan misalnya, siapa yang tidak membutuhkan tempat tinggal? Banyak orang membutuhkan tempat tinggal, bisa berupa perumahan atau apartemen, dsb.

    Ketika banyak orang butuh kendaraan, sementara mereka tidak mau membeli, tidak mau terbebani dengan biaya perawatan, biaya servis, pajak, dsb, mereka bisa sewa mobil atau motor. Demikian juga ketika orang banyak butuh pendidikan, maka bisnis pendidikan pun menjamur dimana-mana.

    Jadi coba lihat disekitar Anda, temukan kebutuhan orang-orang disekitar Anda dan cobalah Anda penuhi kebutuhan itu.

    Yang kedua, pastikan bisnis yang Anda jalankan memberikan solusi kepada konsumen.

    Saya mempunyai teman yang berbisnis statistik. Statistik adalah ilmu yang tidak semua orang mampu menguasainya, maka teman saya menyediakan solusinya, bagaimana orang tanpa harus paham statistik, tapi tugas-tugas statistiknya terselesaikan. Ketika ada orang yang sibuk kerja dan tidak sempat mencuci, setrika dsb, maka laundry adalah solusinya.

    Coba perhatikan disekitar Anda, apa masalah orang yang belum terselesaikan dan coba carikan solusinya.

    Contohnya, baru-baru ini saya membuka bisnis baru tentang sell logo, mengapa? Karena banyak orang butuh logo, butuh  merk, butuh identitas, tapi tidak semua orang mampu mendesign logo yang berkulitas, maka saya buat perusahaan design logo.

    Jadi, bisnis itu sangat sederhana, lihat kebutuhan orang disekitar Anda dan penuhi kebutuhan itu. Lihat permasalahan orang disekitar Anda dan berilah solusi pada permasalahan-permasalahan tersebut.

    Selamat mencoba.

    Sukses.

  • KUADRAN BISNIS MATRIX BOSTON

    KUADRAN BISNIS MATRIX BOSTON

    Sahabat sekalian, pernahkah anda mengamati bisnis anda berada di kuadran mana?

    Dengan mengetahuinya, maka kita bisa merencanakan strategi-strategi yang ciamik buat perkembangan bisnis kita di masa depan.

    Menurut Boston Consulting Group (BCG), Perusahaan Konsultan Manajemen Global, yang didirikan oleh Bruce Henderson pada tahun 1963, yang sekarang memiliki 69 kantor di 40 negara, menyatakan bahwa bisnis itu dibagi menjadi 4 kuadran/kategori.

    Matrix Boston, begitu biasa disebut, membagi bisnis menjadi 4 kategori, yaitu:
    1. ? (Question Mark)
    2. Star (Bintang)
    3. Cash Cow (Sapi Perah)
    4. Dog (Anjing)

    Ini kuadran bisnis apa toko hewan ya? Hehe. Ada yang pernah tahu pembagian-pembagian ini? Mari kita bedah satu persatu:

    1. ? (Question Mark): Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang rendah, dan market growth (perkembangan bisnis) yang tinggi. Bisnis ini punya peluang untuk menjadi star. Strategi yang dapat digunakan adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk dan investasi. 

    2. Star: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang tinggi, dan market growth (perkembangan bisnis) yang tinggi. Bisnis ini biasanya digunakan untuk jangka panjang bagi perusahaan. Long Life Business. Untuk menjadikan bisnis ini tetap menjadi Star, bisa diupayakan dengan berbagai alternatif strategi, misalnya: integrasi ke belakang, integrasi ke depan, integrasi horizontal, penetrasi pasar dan pengembangan produk.

    3. Sapi Perah: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang tinggi, tapi market growth (perkembangan bisnis) nya rendah. Bisnis ini digunakan untuk mengumpulkan uang sesaat buat ‘darah’ perusahaan (short time). Untuk menjadikan bisnis ini menjadi Star, maka bisa diupayakan dengan diversifikasi dan differensiasi.

    4. Dog: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang rendah, dan market growth (perkembangan bisnis) yang rendah. Misal: bisnis wartel, pager, mesin ketik, fuji film, cassete tape recorder, dan sejenisnya. Kondisi semacam ini sering kali membuat suatu divisi harus dilikuidasi, didivestasi, atau dipangkas.

    Kalau sahabat-sahabat saya kasih uang 1 M untuk bisnis wartel mau? Pasti ndak mau kan? Kecuali kita buat: wartel reborn 😊 atau wartel plus plus plus….Hehe

    Jadi silakan cek bisnis temen-temen, ada di kuadran yang mana. Lalu segera lakukan langkah-langkah yang sesuai untuk menjadikan anda dan bisnis anda tetap berada di kuadran STAR. Karena jika tidak, maka bersiap-siaplah bisnis anda akan bergeser ke kuadran DOG.

    Sahabat, dinamika bisnis berkembang sangat cepat. Bisnis yang sekarang ? (Question Mark) atau Star (luaris), ketika salah manajemen atau tata kelola, bisa dengan segera berubah menjadi Dog. Demikian juga sebaliknya.

    Sekali lagi bagaimana dengan bisnis kita?!

    www.kampus-pengusaha.com | www.lawangagung.com | www.ayamnelongso.com

    0878 599 33862 (WA) | 0341- 5032 699

  • KOMPETITOR atau MOTIVATOR?

    Setiap bisnis yang luaris, pasti menimbulkan keinginan pada orang lain untuk meniru bisnis tersebut. Walaupun bisa jadi dia tidak ada passion di bidang itu. Memang, dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada gadis cantik, disitu ada lelaki yang mengerumuni.

    Bisnis yang mirip-mirip, baik secara produk, segmen dan lokasi usaha, seringkali disebut sebagai kompetitor. Biasanya kompetitor ini bisa mengurangi omset kita, bisa mematikan bisnis kita, tapi kadang bisa juga malah meledakkan omset kita. Nanti akan saya bahas kenapa kok bisa demikian. 

    Secara kasat mata, memang seakan-akan bisnis sejenis adalah kompetitor bagi kita. Tapi kalau kita mau berfikir dan berhati jernih, maka sebenarnya kompetitor adalah motivator buat kita. Kompetitor adalah alarm dan polisi tidur buat kita agar kita selalu terjaga.

    Bagaimana tidak, bukankah dengan adanya kompetitor kita akan semakin semangat untuk memperbaiki kondisi internal bisnis kita. Dengan adanya kompetitor kita akan selalu berusaha kreatif agar satu langkah lebih maju dibanding kompetitor. Dengan adanya kompetitor kita akan terhindar dari zona nyaman yang seringkali menjadikan kita malas, terlena dan bisa menghancurkan bisnis kita.

    Dalam NLP, hal tersebut dinamakan meta program menjauh. Kita akan bergerak maju karena rasa takut yg dihadirkan oleh kompetitor kita. Bukankah the power of ‘kepepet’ seringkali menjadikan kita jauh lebih semangat daripada the power of ‘ngisi dompet’?

    Seringkali bisnis yang sejenis malah menjadikan bisnis kita semakin dikenal dan dicari orang, karena kompetitor ikut mengedukasi market yang sama dengan market kita. Apalagi kalau bisnis sejenis ini terkumpul disatu lokasi atau di satu jalan yang sama, maka alam bawah sadar konsumen akan lebih mudah diarahkan untuk menuju ke lokasi dimana bisnis-bisnis sejenis itu berada.

    Misal, sentra HP dan laptop di HiTech Mall WTC Surabaya, sentra kripik tempe di Sanan Malang, sentra mebel di Bukir Pasuruan, sentra tas dan kerajinan kulit di Tanggulangin Sidoarjo, kampung inggris di Pare Kediri, pusat kurma di Ampel Surabaya, sentra kuliner di Sigura-gura dan Sunan Kalijogo Malang, dan senisnya.

    Faktanya semua bisnis di daerah-daerah tersebut semakin ramai. Omsetnya tidak berkurang, malah semakin naik. Misalnya, warung ayamnelongso.com dan Sambal Mak Tin, dua warung yang suangat favorit di Malang ini malah semakin naik omsetnya. Walaupun di sepanjang jalan tersebut berjejer puluhan rumah makan merk yang lainnya, alhamdulillah omset kedua warung tersebut bisa menembus 2000-3500 porsi setiap harinya.

    Rejeki tidak akan pernah tertukar. Maka, tidak perlu resah dan gelisah ketika ada kompetitor. Terus perbaiki ikhtiar dan kuatkan spiritual. InsyaAllah semakin sukses dan berkah. Jadi, masih takut dgn kompetitor? Kelaut aja….😀

    *Ikuti pertemuan COACHING, CONSULTING DAN MENTORING: “Menjadikan Bisnis Anda Semakin BERSISTEM, Agar Bisnis Anda Bisa AUTO PILOT”

    Catat tanggal mainnya: Kediri (22 Mei), Surabaya (25 Mei), Malang (26 Mei)

    Led by: askansetiabudi.com

    Presented by: SBCC (School of Business Coaching & Consulting) | lawangagung.com | ayamnelongso.com | tips-indonesia.com

    WA: 0878 599 33862

  • NLP for Selling

    Pernahkah anda menawarkan sebuah produk, tapi respon calon konsumen begitu negatif? Atau calon konsumen tidak tertarik? Atau tertarik tapi tidak membeli? Atau kalaupun membeli, itu karena terpaksa/sungkan dan memilih harga yang paling murah?

    Jika itu pernah anda alami, cobalah anda pelajari NLP for selling. Disini anda bisa mempelajari bagaimana building rapport, melakukan pacing and leading, mirroring dan building trust.

    Ilmu dasar tersebut sangat puenting sebelum anda belajar ‘selling skill’ yang lainnya. Ilmu dasar tersebut berfungsi untuk membuka ‘critical area’ atau ‘recticular activating system’ calon konsumen, sehingga anda bisa masuk ke alam bawah sadarnya dan mempengaruhinya agar mau membeli produk-produk anda.

    Namun, sebelum kita lanjutkan, ada pertanyaan yang tidak kalah puenting: apakah anda benar-benar yakin kalau produk anda bermanfaat? Berkualitas dan bukan abal-abal? Apakah anda yakin kalau produk anda aman untuk dunia dan akhirat? dan sebagainya. Jika anda tidak yakin, maka anda akan kehilangan power saat menawarkan produk anda. Kalau anda sendiri tidak yakin dengan produk anda, bagaimana dengan calon konsumen?

    Setelah dua pondasi tersebut tuntas, baru anda pelajari materi berikutnya: bagaimana membuat ‘copy writing’ dalam presentasi/selling sehingga calon konsumen mau dan segera action untuk membeli produk anda, dalam jumlah yang banyak, tanpa menawar harga, dan secara sukarela mau untuk menceritakan produk anda keteman-teman dan keluarga mereka (happy customer).

    Dalam copywriting terdapat buanyak sekali ilmu NLP yang dipakai, misalnya: figur otoritas (ada di dalam testimoni), time limit (ada di dalam batasan waktu pendaftaran dengan variasi discount), meta program mendekat (ada di dalam benefit dan manfaat), milton model (ada di tagline) dan lain-lain.

    Sahabat sekalian, jika anda ingin mempelajarinya lebih detail silakan ikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh SBCC.

    Kamis, 19 Mei 2016, jam 13.00-end, di RM Nelongso Malang, kami mengadakan pelatihan: “PUBLIC SPEAKING FOR SELLING”

    Bagi anda dan tim yang masih gagap dan gugup ketika presentasi, kurang bisa meyakinkan calon konsumen, kurang bisa memilih kata-kata, jeda dan intonasi yang bisa ‘menghipnosis’ klien (hypnosis language pattern), kurang bisa men’drive’ calon pembeli sehingga mereka membeli yang anda mau, bukan yang mereka mau, dan berbagai permasalahan ‘communication skill’ yang lainnya, maka anda dan tim WAJIB hadir di acara ini.

    Acara ini diselenggarakan oleh:

    SBCC (School of Business, Coaching & Consulting), led by: Coach Askan Setiabudi, CI, CT.NLP

    Info & Pendaftaran:

    0878 599 33862 (WA)

    www.tips-indonesia.com

     

     

     

     

     

     

     

  • MEMBANGUN LOYALITAS TIM KERJA

    “Dulu ketika saya masih menjadi seorang karyawan, pernah hampir saya tinggalkan pekerjaan ini, karena saya merasa tidak dihargai oleh manajer outlet saya. Sangat jarang saya mendapatkan sekedar ucapan terimakasih kek, pujian kek, sapaan basa basi kek. Malah sebaliknya, saya mendapat marahan dan sikap kurang baik dari beliau,” curhat salah seorang manajer outlet sebuah rumah makan yang sangat terkenal di Malang dan Surabaya.

    “Maka ketika saya sekarang menjadi seorang manajer outlet, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menghargai tim kerja saya. Saya berikan respect, perhatian, bimbingan dan kepercayaan penuh pada mereka, sehingga mereka merasa dianggap, diuwongke, lebih mandiri dan bertanggungjawab.”

    “Kalau ada evaluasi sering saya sampaikan sambil bercanda, tegas tapi tidak keras. Sering saya ajak bicara dari hati ke hati empat mata. Kadang saya traktir main PS atau futsal sehingga lebih akrab dan mereka merasa berhutang budi. Kalau misalkan mereka ada masalah dengan manajemen pusat, saya bantu untuk handle, sehingga mereka merasa saya lindungi,” ceritanya sambil menikmati ayam crispy, salah satu menu favorit yang ada di rumah makan itu.

    “Karena ikatan emosional itulah, mereka sangat loyal kepada saya. Ketika saya meminta mereka untuk melakukan sesuatu, mereka pasti nurut. Ketika saya dipindah untuk menghandle outlet yang lain, mereka sedih banget dan ingin ikut pindah bersama-sama dengan saya,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

    Lain manajer, lain pula ceritanya. Manajer outlet yang akan saya ceritakan berikut ini sangat loyal pada perusahaan. Saking loyalnya, sampai-sampai ketika dia ditawari oleh orang lain untuk membuka rumah makan baru, dengan gaji yang lebih besar dan sistem bagi hasil yang menarik, dengan tegas dia menolak.

    “Saya sangat berhutang budi pada rumah makan ini, gara-gara rumah makan ini saya sekarang sangat dihargai oleh keluarga, saudara dan teman-teman saya. Padahal dulu mereka sangat meremehkan saya. Karena dulu saya hanyalah seorang penjual sayur di pasar dan kadang-kadang membantu teman saya berjualan jilbab,” kenangnya.

    “Saya sangat respect pada owner rumah makan ini, beliau orangnya baik, percaya dan perhatian pada saya. Bagi saya beliau sudah saya anggap seperti kakak sekaligus orang tua saya sendiri. Manajer areanya juga perhatian dan bagus sama saya, saya dididik sampai betul-betul paham bagaimana menjadi seorang manajer outlet yang professional. Pernah saya menangis disaat salah satu manajer area memberi saya uang untuk membeli sandal. Maklum sandal saya sudah butut waktu itu.”

    “Gaji saya juga sudah lebih dari cukup, belum lagi fasilitas yang lainnya. Dan insyaAllah saya temukan jodoh saya di rumah makan ini. Alhamdulillah, suami istri masih boleh sama-sama bekerja disini,” pungkasnya.

    Saudara, punyakah anda cerita-cerita tentang bagaimana agar seorang karyawan (baca: tim kerja) bisa menjadi loyal pada instansi/perusahaan?

    Kirimkan cerita anda ke WA: 0878 599 33862 atau ke email: international_coach@yahoo.com.

    Cerita anda akan kami jadikan buku dan anda berhak untuk mendapatkan keuntungan dari buku tersebut.

    NB: Cerita diatas adalah hasil sharing-sharing saya dengan Manajer Outlet Rumah Makan Ayam Goreng Nelongso Surabaya.

    Let’s Grow Together…!
    SBCC (School of Business, Coaching & Consulting)