Tag: strategi bisnis

  • PACKAGE

    packaging-600x401Misal suatu saat Anda temukan sebuah produk yang enak, akan tetapi kemasan atau package-nya buruk, kira-kira berapa orang yang mau membelinya?

    Permisalan yang kedua, Anda temukan produk yang rasanya tidak enak, tapi kemasannya bagus. Kira-kira berapa orang yang mau membeli produk tersebut?

    Yang ketiga, sebuah produk yang kemasannya bagus dan kualitas rasanya pun bagus. Kira-kira berapa banyak konsumen yang mau membeli produk tersebut?

    Mari kita bahas satu persatu. Produk yang pertama, biasanya yang mau membeli adalah konsumen dari kelas menengah ke bawah, yang tidak peduli dengan kemasan, yang penting rasanya enak. Namun, bagi konsumen kelas menengah ke atas pasti sangat memperhatikan yang namanya kemasan dan kualitas rasa dari sebuah produk.

    Nah, bagaimana dengan produk yang kedua? Kemasannya bagus tapi kualitas isi atau rasanya tidak enak. Tentunya produk semacam ini lama kelamaan akan ditinggalkan juga.

    Anda tentu pernah mendengar filosofi Jawa, “ajining raga saka busana”. Banyak rekan-rekan pebisnis yang pada awalnya memiliki produk yang biasa saja kemasannya, jadi segmennya hanya di level tertentu, rata-rata menengah ke bawah. Padahal produknya enaknya luar biasa. Lalu, begitu beliau packaging ulang dan dikemas dengan kemasan yangn menarik, segmennya menjadi meluas, mulai dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas.

    Ada perbedaan diantara konsumen menengah ke atas ketika mereka hendak membeli produk. Selain rasa, mereka juga mengutamakan kemasan. Walau kita semua tahu mereka tidak akan memakan kemasannya, tetapi itulah image atau umumnya disebut status sosial. Coba anda perhatikan, misalnya orang-orang yang makan di McD atau di tempat makan sejenisnya. Sebenarnya rasanya tidak jauh beda, bukan? Tapi karena packaging di McD lebih menarik, maka orang pun bangga ketika mereka menceritakan sedang makan dimana.

    Dari sini, tentunya Anda sudah mulai memahami pentingnya packaging, bukan? Banyak rekan pebisnis yang menata ulang packaging produk-produk mereka, dan mereka bisa meraup omset berlipat-lipat dibanding sebelum kemasan produk mereka di repackaging.

    Mungkin anda bertanya, jika produk di package dengan kemasan yang lebih bagus, bagaimana dengan harganya, pasti akan kehilangan konsumen kelas menengah ke bawah? Maka, disinilah Anda boleh mempertimbangkan tetang packaging produk anda. Tentunya, Anda harus berpikir cerdas bagaimana dengan kemasan yang baru, harga produk Anda tidak beda jauh dengan produk dengan kemasan lama. Karena Anda tetap  membutuhkan konsumen dari kedua segmen tersebut.

    Selama produk Anda bagus, kemasan produk bagus, dan harga produk Anda masih rasional, maka produk Anda akan menembus semua segmen konsumen.

    Selamat mencoba.

  • SELLING

    selling-ebooks-660x320

    Dalam dunia marketing kita mengenal istilah “selling”. Anda tentu pernah melihat seorang SPG rokok yang berkeliling menawarkan rokok kepada masyarakat, atau SPG mobil yang berkeliling dari kantor ke kantor untuk menawarkan produknya, atau yang sering kita lihat adalah SPG sebuah produk susu fermentasi, mereka masuk dari rumah ke rumah, atau mereka memasarkan produk di sebuat event. Itulah adalah beberapa contoh dari kegiatan selling.

    Misalnya lagi, pemilik rumah makan meminta tim marketingnya untuk berkeliling membawa tester makanan dari kantor satu ke kantor yang lain. Contoh lain, tim outbound seperti yang saya punya, membawa proposal/brosur dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, atau lembaga bimbingan belajar masuk dari satu sekolah ke sekolah yang lain, itulah selling.

    Lantas apa bedanya antara branding, marketing dan selling?

    Jika boleh saya bedakan, branding itu membangun image (soft selling), memasukkan ke otak bawah sadar konsumen bahwa produk tersebut masih eksis. Sedangkan marketing adalah sebuah prolog yang menjadikan konsumen menjadi penasaran untuk mengetahui lebih jauh apa yang kita tawarkan. Lalu selling adalah proses menjelaskan tentang apa yang sudah dibangun image dalam branding, apa yang sudah diprolog di marketing. Jadi, selling adalah ujung tombak pemasaran produk yang sudah di-branding dan di-marketing-kan oleh tim.

    Seberapa kuatkan efek selling dalam bisnis?

    Di Kota Malang, ada banyak kampus yang brand-nya tidak kuat, marketing-nya pun biasa, tapi selling-nya luar biasa. Mereka datang ke Indonesia bagian timur dan mereka tawarkan berbagai fasilitas, dan hasilnya dahsyat. Kampus ini memiliki mahasiswa yang cukup banyak.

    Jadi, ketika brand Anda kurang kuat atau marketing Anda kurang kuat, tidak ada salahnya Anda mencoba untuk menajamkan tim selling anda, karena selling adalah ujung tombak untuk mendekat kepada konsumen atau calon konsumen. Disana mereka bisa berinteraksi untuk memperjelas nilai tawar produk Anda. Jika ada komplain atau keluhan, tim bisa segera sampaikan ke pimpinan untuk di-create menjadi tambahan-tambahan fasilitas. Proses inilah yang mempercepat terjadinya closing.

    Jadi, maaf jika Anda hanya memgandalkan branding dan marketing itu berarti Anda masih dilangit. Tapi, jika Anda mempunyai tim marketing yang hebat, ibaratnya Anda mempunyai pasukan tempur yang bergerilya hari demi hari ke semua segmen pasar.

    Sekarang ini banyak orang yang perlu kejelasan, perlu detail, perlu didengarkan dan tim sales memiliki kemampuan untuk mendengarkan, melakukan design ulang terhadap permintaan dan memberikan penjelasan dari sekian banyak pertanyaan.

    Selamat mencoba dan menikmati kedahsyatan omset bisnis anda.

  • NETWORKING

    network-1Jika seseorang menawari Anda sebuah produk dan ada orang lain yang juga menawari produk yang sama persis dengan produk orang yang pertama, kira-kira Anda akan memilih untuk membeli pada siapa? Orang pertama adalah orang yang Anda kenal dan berada dalam komunitas yang sama dengan Anda, sedangkan orang yang kedua tidak Anda kenal. Anda sudah tau jawabannya, bukan? Pasti Anda akan memilih orang yang pertama, yaitu orang yang Anda kenal. Karena antara Anda dan rekan sekomunitas tersebut, anda sudah mempunyai trust dengan teman Anda tersebut.

    Konsumen sering membeli karena dua alasan tersebut, trust dan loyalitas.

    Misalnya, saya punya usaha suplier ayam. Lalu, tim saya menawarkan ke sebuah warung. Segala macam cara sudah ditempuh oleh tim untuk menawarkan produk kami kepada warung ini, akan tetapi warung ini susah sekali ditembus. Mengapa hal ini terjadi? Pertama, karena warung ini belum punya trust dan yang kedua, karena pemilik warung lebih loyal kepada suplier yang lama, karena suplier lama adalah rekan sekomunitas dengan pemilik warung.

    Sudahkah hari ini Anda punya komunitas, organisasi, networking?? Jika belum, maka Anda sebagai business owner, mulai sekarang targetkan untuk bergabung di suatu komunitas atau organisasi. Bangunlah networking Anda, sehingga Anda memiliki semakin banyak orang yang memiliki trust dan loyal kepada Anda.

    Tentunya Anda juga harus memikirkan konstribusi apa yang bisa Anda berikan untuk organisasi atau komunitas yang Anda putuskan untuk bergabung. Maka, cepat atau lambat Anda akan mendapatkan benefit (manfaat) dari organisasi atau komunitas tersebut. Akan tetapi, jangan sampai Anda hanya ingin mendapatkan tanpa mau berkontribusi. Pastikan Anda dikenal baik di komunitas Anda, pastikan orang tahu produk Anda dan mereka tahu kelebihan Anda dan apa yang Anda bisa berikan kepada mereka.

    Selamat bergabung dalam komunitas dan berikan yang terbaik.

  • HOW TO START A BUSINESS

    eduardostartingbusinessPernahkah Anda bertanya bagaimana cara mengawali sebuah bisnis?

    Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi banyak orang sampai detik ini bingung menentukan bisnis apa yang akan dijalankan.

    Sebenarnya, cara mengawali sebuah bisnis sangat sederhana. Yang pertama, Anda harus memastikanbahwa bisnis Anda bisa memenuhi kebutuhan orang. Disekitar kita, misalnya, banyak orang yang butuh sandang, maka Anda bisa memilih untuk berbisnis busana. Ketika banyak orang butuh jilbab, Anda bisa memulai membuka bisnis jilbab. Ketika banyak orang membutuhkan seragam kantor (kaos/baju), maka bisnis seragam kaos/baju bisa dijadikan salah satu alternatif bisnis. Ketika Anda tinggal di lingkungan kampus, misalnya, banyak mahasiswa yang membutuhkan makanan, maka warung makan bisa menjadi salah satu bisnis. Contoh lain, perumahan misalnya, siapa yang tidak membutuhkan tempat tinggal? Banyak orang membutuhkan tempat tinggal, bisa berupa perumahan atau apartemen, dsb.

    Ketika banyak orang butuh kendaraan, sementara mereka tidak mau membeli, tidak mau terbebani dengan biaya perawatan, biaya servis, pajak, dsb, mereka bisa sewa mobil atau motor. Demikian juga ketika orang banyak butuh pendidikan, maka bisnis pendidikan pun menjamur dimana-mana.

    Jadi coba lihat disekitar Anda, temukan kebutuhan orang-orang disekitar Anda dan cobalah Anda penuhi kebutuhan itu.

    Yang kedua, pastikan bisnis yang Anda jalankan memberikan solusi kepada konsumen.

    Saya mempunyai teman yang berbisnis statistik. Statistik adalah ilmu yang tidak semua orang mampu menguasainya, maka teman saya menyediakan solusinya, bagaimana orang tanpa harus paham statistik, tapi tugas-tugas statistiknya terselesaikan. Ketika ada orang yang sibuk kerja dan tidak sempat mencuci, setrika dsb, maka laundry adalah solusinya.

    Coba perhatikan disekitar Anda, apa masalah orang yang belum terselesaikan dan coba carikan solusinya.

    Contohnya, baru-baru ini saya membuka bisnis baru tentang sell logo, mengapa? Karena banyak orang butuh logo, butuh  merk, butuh identitas, tapi tidak semua orang mampu mendesign logo yang berkulitas, maka saya buat perusahaan design logo.

    Jadi, bisnis itu sangat sederhana, lihat kebutuhan orang disekitar Anda dan penuhi kebutuhan itu. Lihat permasalahan orang disekitar Anda dan berilah solusi pada permasalahan-permasalahan tersebut.

    Selamat mencoba.

    Sukses.

  • KUADRAN BISNIS MATRIX BOSTON

    KUADRAN BISNIS MATRIX BOSTON

    Sahabat sekalian, pernahkah anda mengamati bisnis anda berada di kuadran mana?

    Dengan mengetahuinya, maka kita bisa merencanakan strategi-strategi yang ciamik buat perkembangan bisnis kita di masa depan.

    Menurut Boston Consulting Group (BCG), Perusahaan Konsultan Manajemen Global, yang didirikan oleh Bruce Henderson pada tahun 1963, yang sekarang memiliki 69 kantor di 40 negara, menyatakan bahwa bisnis itu dibagi menjadi 4 kuadran/kategori.

    Matrix Boston, begitu biasa disebut, membagi bisnis menjadi 4 kategori, yaitu:
    1. ? (Question Mark)
    2. Star (Bintang)
    3. Cash Cow (Sapi Perah)
    4. Dog (Anjing)

    Ini kuadran bisnis apa toko hewan ya? Hehe. Ada yang pernah tahu pembagian-pembagian ini? Mari kita bedah satu persatu:

    1. ? (Question Mark): Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang rendah, dan market growth (perkembangan bisnis) yang tinggi. Bisnis ini punya peluang untuk menjadi star. Strategi yang dapat digunakan adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk dan investasi. 

    2. Star: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang tinggi, dan market growth (perkembangan bisnis) yang tinggi. Bisnis ini biasanya digunakan untuk jangka panjang bagi perusahaan. Long Life Business. Untuk menjadikan bisnis ini tetap menjadi Star, bisa diupayakan dengan berbagai alternatif strategi, misalnya: integrasi ke belakang, integrasi ke depan, integrasi horizontal, penetrasi pasar dan pengembangan produk.

    3. Sapi Perah: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang tinggi, tapi market growth (perkembangan bisnis) nya rendah. Bisnis ini digunakan untuk mengumpulkan uang sesaat buat ‘darah’ perusahaan (short time). Untuk menjadikan bisnis ini menjadi Star, maka bisa diupayakan dengan diversifikasi dan differensiasi.

    4. Dog: Bisnis ini bergerak pada market share (pangsa pasar) yang rendah, dan market growth (perkembangan bisnis) yang rendah. Misal: bisnis wartel, pager, mesin ketik, fuji film, cassete tape recorder, dan sejenisnya. Kondisi semacam ini sering kali membuat suatu divisi harus dilikuidasi, didivestasi, atau dipangkas.

    Kalau sahabat-sahabat saya kasih uang 1 M untuk bisnis wartel mau? Pasti ndak mau kan? Kecuali kita buat: wartel reborn 😊 atau wartel plus plus plus….Hehe

    Jadi silakan cek bisnis temen-temen, ada di kuadran yang mana. Lalu segera lakukan langkah-langkah yang sesuai untuk menjadikan anda dan bisnis anda tetap berada di kuadran STAR. Karena jika tidak, maka bersiap-siaplah bisnis anda akan bergeser ke kuadran DOG.

    Sahabat, dinamika bisnis berkembang sangat cepat. Bisnis yang sekarang ? (Question Mark) atau Star (luaris), ketika salah manajemen atau tata kelola, bisa dengan segera berubah menjadi Dog. Demikian juga sebaliknya.

    Sekali lagi bagaimana dengan bisnis kita?!

    www.kampus-pengusaha.com | www.lawangagung.com | www.ayamnelongso.com

    0878 599 33862 (WA) | 0341- 5032 699