Kategori: COACHING & CONSULTING

  • KOMPETITOR atau MOTIVATOR?

    Setiap bisnis yang luaris, pasti menimbulkan keinginan pada orang lain untuk meniru bisnis tersebut. Walaupun bisa jadi dia tidak ada passion di bidang itu. Memang, dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada gadis cantik, disitu ada lelaki yang mengerumuni.

    Bisnis yang mirip-mirip, baik secara produk, segmen dan lokasi usaha, seringkali disebut sebagai kompetitor. Biasanya kompetitor ini bisa mengurangi omset kita, bisa mematikan bisnis kita, tapi kadang bisa juga malah meledakkan omset kita. Nanti akan saya bahas kenapa kok bisa demikian. 

    Secara kasat mata, memang seakan-akan bisnis sejenis adalah kompetitor bagi kita. Tapi kalau kita mau berfikir dan berhati jernih, maka sebenarnya kompetitor adalah motivator buat kita. Kompetitor adalah alarm dan polisi tidur buat kita agar kita selalu terjaga.

    Bagaimana tidak, bukankah dengan adanya kompetitor kita akan semakin semangat untuk memperbaiki kondisi internal bisnis kita. Dengan adanya kompetitor kita akan selalu berusaha kreatif agar satu langkah lebih maju dibanding kompetitor. Dengan adanya kompetitor kita akan terhindar dari zona nyaman yang seringkali menjadikan kita malas, terlena dan bisa menghancurkan bisnis kita.

    Dalam NLP, hal tersebut dinamakan meta program menjauh. Kita akan bergerak maju karena rasa takut yg dihadirkan oleh kompetitor kita. Bukankah the power of ‘kepepet’ seringkali menjadikan kita jauh lebih semangat daripada the power of ‘ngisi dompet’?

    Seringkali bisnis yang sejenis malah menjadikan bisnis kita semakin dikenal dan dicari orang, karena kompetitor ikut mengedukasi market yang sama dengan market kita. Apalagi kalau bisnis sejenis ini terkumpul disatu lokasi atau di satu jalan yang sama, maka alam bawah sadar konsumen akan lebih mudah diarahkan untuk menuju ke lokasi dimana bisnis-bisnis sejenis itu berada.

    Misal, sentra HP dan laptop di HiTech Mall WTC Surabaya, sentra kripik tempe di Sanan Malang, sentra mebel di Bukir Pasuruan, sentra tas dan kerajinan kulit di Tanggulangin Sidoarjo, kampung inggris di Pare Kediri, pusat kurma di Ampel Surabaya, sentra kuliner di Sigura-gura dan Sunan Kalijogo Malang, dan senisnya.

    Faktanya semua bisnis di daerah-daerah tersebut semakin ramai. Omsetnya tidak berkurang, malah semakin naik. Misalnya, warung ayamnelongso.com dan Sambal Mak Tin, dua warung yang suangat favorit di Malang ini malah semakin naik omsetnya. Walaupun di sepanjang jalan tersebut berjejer puluhan rumah makan merk yang lainnya, alhamdulillah omset kedua warung tersebut bisa menembus 2000-3500 porsi setiap harinya.

    Rejeki tidak akan pernah tertukar. Maka, tidak perlu resah dan gelisah ketika ada kompetitor. Terus perbaiki ikhtiar dan kuatkan spiritual. InsyaAllah semakin sukses dan berkah. Jadi, masih takut dgn kompetitor? Kelaut aja….😀

    *Ikuti pertemuan COACHING, CONSULTING DAN MENTORING: “Menjadikan Bisnis Anda Semakin BERSISTEM, Agar Bisnis Anda Bisa AUTO PILOT”

    Catat tanggal mainnya: Kediri (22 Mei), Surabaya (25 Mei), Malang (26 Mei)

    Led by: askansetiabudi.com

    Presented by: SBCC (School of Business Coaching & Consulting) | lawangagung.com | ayamnelongso.com | tips-indonesia.com

    WA: 0878 599 33862

  • NLP for Selling

    Pernahkah anda menawarkan sebuah produk, tapi respon calon konsumen begitu negatif? Atau calon konsumen tidak tertarik? Atau tertarik tapi tidak membeli? Atau kalaupun membeli, itu karena terpaksa/sungkan dan memilih harga yang paling murah?

    Jika itu pernah anda alami, cobalah anda pelajari NLP for selling. Disini anda bisa mempelajari bagaimana building rapport, melakukan pacing and leading, mirroring dan building trust.

    Ilmu dasar tersebut sangat puenting sebelum anda belajar ‘selling skill’ yang lainnya. Ilmu dasar tersebut berfungsi untuk membuka ‘critical area’ atau ‘recticular activating system’ calon konsumen, sehingga anda bisa masuk ke alam bawah sadarnya dan mempengaruhinya agar mau membeli produk-produk anda.

    Namun, sebelum kita lanjutkan, ada pertanyaan yang tidak kalah puenting: apakah anda benar-benar yakin kalau produk anda bermanfaat? Berkualitas dan bukan abal-abal? Apakah anda yakin kalau produk anda aman untuk dunia dan akhirat? dan sebagainya. Jika anda tidak yakin, maka anda akan kehilangan power saat menawarkan produk anda. Kalau anda sendiri tidak yakin dengan produk anda, bagaimana dengan calon konsumen?

    Setelah dua pondasi tersebut tuntas, baru anda pelajari materi berikutnya: bagaimana membuat ‘copy writing’ dalam presentasi/selling sehingga calon konsumen mau dan segera action untuk membeli produk anda, dalam jumlah yang banyak, tanpa menawar harga, dan secara sukarela mau untuk menceritakan produk anda keteman-teman dan keluarga mereka (happy customer).

    Dalam copywriting terdapat buanyak sekali ilmu NLP yang dipakai, misalnya: figur otoritas (ada di dalam testimoni), time limit (ada di dalam batasan waktu pendaftaran dengan variasi discount), meta program mendekat (ada di dalam benefit dan manfaat), milton model (ada di tagline) dan lain-lain.

    Sahabat sekalian, jika anda ingin mempelajarinya lebih detail silakan ikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh SBCC.

    Kamis, 19 Mei 2016, jam 13.00-end, di RM Nelongso Malang, kami mengadakan pelatihan: “PUBLIC SPEAKING FOR SELLING”

    Bagi anda dan tim yang masih gagap dan gugup ketika presentasi, kurang bisa meyakinkan calon konsumen, kurang bisa memilih kata-kata, jeda dan intonasi yang bisa ‘menghipnosis’ klien (hypnosis language pattern), kurang bisa men’drive’ calon pembeli sehingga mereka membeli yang anda mau, bukan yang mereka mau, dan berbagai permasalahan ‘communication skill’ yang lainnya, maka anda dan tim WAJIB hadir di acara ini.

    Acara ini diselenggarakan oleh:

    SBCC (School of Business, Coaching & Consulting), led by: Coach Askan Setiabudi, CI, CT.NLP

    Info & Pendaftaran:

    0878 599 33862 (WA)

    www.tips-indonesia.com

     

     

     

     

     

     

     

  • MEMBANGUN LOYALITAS TIM KERJA

    “Dulu ketika saya masih menjadi seorang karyawan, pernah hampir saya tinggalkan pekerjaan ini, karena saya merasa tidak dihargai oleh manajer outlet saya. Sangat jarang saya mendapatkan sekedar ucapan terimakasih kek, pujian kek, sapaan basa basi kek. Malah sebaliknya, saya mendapat marahan dan sikap kurang baik dari beliau,” curhat salah seorang manajer outlet sebuah rumah makan yang sangat terkenal di Malang dan Surabaya.

    “Maka ketika saya sekarang menjadi seorang manajer outlet, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menghargai tim kerja saya. Saya berikan respect, perhatian, bimbingan dan kepercayaan penuh pada mereka, sehingga mereka merasa dianggap, diuwongke, lebih mandiri dan bertanggungjawab.”

    “Kalau ada evaluasi sering saya sampaikan sambil bercanda, tegas tapi tidak keras. Sering saya ajak bicara dari hati ke hati empat mata. Kadang saya traktir main PS atau futsal sehingga lebih akrab dan mereka merasa berhutang budi. Kalau misalkan mereka ada masalah dengan manajemen pusat, saya bantu untuk handle, sehingga mereka merasa saya lindungi,” ceritanya sambil menikmati ayam crispy, salah satu menu favorit yang ada di rumah makan itu.

    “Karena ikatan emosional itulah, mereka sangat loyal kepada saya. Ketika saya meminta mereka untuk melakukan sesuatu, mereka pasti nurut. Ketika saya dipindah untuk menghandle outlet yang lain, mereka sedih banget dan ingin ikut pindah bersama-sama dengan saya,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

    Lain manajer, lain pula ceritanya. Manajer outlet yang akan saya ceritakan berikut ini sangat loyal pada perusahaan. Saking loyalnya, sampai-sampai ketika dia ditawari oleh orang lain untuk membuka rumah makan baru, dengan gaji yang lebih besar dan sistem bagi hasil yang menarik, dengan tegas dia menolak.

    “Saya sangat berhutang budi pada rumah makan ini, gara-gara rumah makan ini saya sekarang sangat dihargai oleh keluarga, saudara dan teman-teman saya. Padahal dulu mereka sangat meremehkan saya. Karena dulu saya hanyalah seorang penjual sayur di pasar dan kadang-kadang membantu teman saya berjualan jilbab,” kenangnya.

    “Saya sangat respect pada owner rumah makan ini, beliau orangnya baik, percaya dan perhatian pada saya. Bagi saya beliau sudah saya anggap seperti kakak sekaligus orang tua saya sendiri. Manajer areanya juga perhatian dan bagus sama saya, saya dididik sampai betul-betul paham bagaimana menjadi seorang manajer outlet yang professional. Pernah saya menangis disaat salah satu manajer area memberi saya uang untuk membeli sandal. Maklum sandal saya sudah butut waktu itu.”

    “Gaji saya juga sudah lebih dari cukup, belum lagi fasilitas yang lainnya. Dan insyaAllah saya temukan jodoh saya di rumah makan ini. Alhamdulillah, suami istri masih boleh sama-sama bekerja disini,” pungkasnya.

    Saudara, punyakah anda cerita-cerita tentang bagaimana agar seorang karyawan (baca: tim kerja) bisa menjadi loyal pada instansi/perusahaan?

    Kirimkan cerita anda ke WA: 0878 599 33862 atau ke email: international_coach@yahoo.com.

    Cerita anda akan kami jadikan buku dan anda berhak untuk mendapatkan keuntungan dari buku tersebut.

    NB: Cerita diatas adalah hasil sharing-sharing saya dengan Manajer Outlet Rumah Makan Ayam Goreng Nelongso Surabaya.

    Let’s Grow Together…!
    SBCC (School of Business, Coaching & Consulting)

  • WARUNG TERAPI DI MALANG

    Kalau ke Malang, kurang afdhol sekiranya Anda tidak mampir di warung yang satu ini, ya Warung Sambal Mak Tin. Terletak di jalan Sunan Kalijogo 3 Malang, tepatnya di belakang UIN Malang.

    Kenapa harus mampir ke Warung Sambal Mak Tin? Karena Sambal Mak Tin bukan sekedar warung, tapi dia adalah warung terapi. Silakan saja mampir kesana. Dengarkan saja slogan karyawannya: “selalu berbakti”, baca saja tulisan-tulisan di dindingnya, lihat saja gambar-gambarnya, dengarkan lagu-lagunya, rasakan suasananya, dan sebagainya.

    Pendek kata, bukan hanya fisik (perut, red) anda saja yang akan dibikin kenyang, tapi jiwa anda akan dibikin menerawang: teringat bunda yang penuh jasa di kampung halaman. Jangan salahkan Warung Sambal Mak Tin jika Anda tiba-tiba ingin pulang!

    Sebuah perpaduan yang unik antara bisnis dan terapi kejiwaan. “Banyak orang yang durhaka pada ibu dan ayahnya, maka warung ini semoga bisa menjadi terapi, agar mereka sadar betapa ridlo orang tua adalah ridlo Allah juga” kata ownernya.

    Warung ini insyaAllah bisa menjadi amal jariyah. Karena setiap hari selama 24 jam akan terus ‘mendakwahi’ siapa saja yang “berani” mampir kesana: mengingatkan betapa besar jasa orang tua, terutama ibunda.

    Maka, semakin sering anda kesana, akan terjadi repeating dalam alam bawah sadar anda. Akan terjadi automatic hypnotherapy yang insyaAllah akan menjadikan anda semakin berbakti kepada kedua orang tua.

    Dengan iringan musik yang slow (gelombang alfa), makanan yg uenak, pelayanan yang self service, dan sejenisnya menjadikan konsumen bisa mengalami trance (RAS di otak terbuka, sehingga mudah utk dipengaruhi/dihipnosis). Kalau dalam ilmu NLP, building rapport-nya pas, pacing leadingnya cucok, ekologisnya dapat.

    Saya merasakan ‘aura’, value & positioning yg kuat sekali di Sambal Mak Tin, cobalah anda kesana….. Oh ya ada yang lupa, puedes dan nimatnya Sambal Mak Tin tidak kalah loh dengan Ayam Goreng NELONGSO….

    ———+++————+++++——

    Bisnis berkonsep dakwah, perlukah? Bagaimana mengelolanya agar ‘halus’ masuknya ke ‘mind & soul’ konsumen? Adakah contoh bisnis sejenis yang lain yang anda tahu?

    Let’s Grow Together………………………………..!

    www.askansetiabudi.com

    SBCC (School of Business, Coaching & Consulting)

    (lebih…)

  • COMPLAINT is A BEAUTIFUL GIFT!

    Pernahkah anda dapat komplain yang pedas dari konsumen anda? Entah karena kesengajaan atau karena kekhilafan yang anda lakukan? Bagaimana reaksi anda? Marah, menerima dengan lapang dada lalu memperbaikinya atau mengabaikannya?

    Pilihannya terserah anda, demikian juga dengan konsumen, mereka bebas memilih kembali lagi atau membenci dan meninggalkan bisnis anda.

    Kalau anda memilih marah, itu pertanda anda keras kepala. Merasa kalau produk dan layanan anda sudah sempurna tanpa celah. Dan menganggap konsumen tidak sepintar anda. Demikian juga ketika anda mengabaikan konsumen anda.

    Jika anda mau mendengarkan masukan lalu memperbaikinya, itu pertanda kalau anda rendah hati dan sadar bahwa anda tidak sempurna. Anda menganggap kritikan bukanlah ejekan, olokan atau kata-kata yang merendahkan. Tapi lebih sebagai hadiah terindah buat kemajuan bisnis anda dimasa depan. Conplaint is A Beautiful Gift!

    Dalam NLP, suara konsumen bisa menjadi second opinion, sehingga anda tidak melakukan generalisasi terhadap bisnis dan konsumen anda. Sekaligus bisa juga menjadi perceptual position yang menjadikan anda lebih objektif dalam melihat keadaan.

    Tentunya setiap masukan harus tetap dikaji, ditimbang dan diformula ulang agar sesuai dengan visi, misi dan kondisi bisnis anda. Agar anda tidak terombang ambing oleh masukan yang berbeda-beda.

    Kalau anda mau melakukannya (mendengar masukan-masukan dari siapapun, lalu mengambil mana yg terbaik), maka anda termasuk orang yang cerdas dan mendapat petunjuk/hidayah (Q.S. 39: 18).

    Memang, anda tidak akan bisa memuaskan semua konsumen anda. Namun, anda juga jangan seperti kuda yang ditutup mata dan telinganya.

    NB: cobalah ganti konsumen dengan tim, mitra atau karyawan.

    ——————

    Mau belajar bisnis, jadi konsultan atau coach?
    Silakan bergabung di IBCC (Islamic Business Coaching and Consulting)

    Program ini didukung oleh:
    www.tips-indonesia.com
    www.outboundindonesia.com

  • Apa Beda Coaching dan Training?

    Profesi baru ini saya tekuni beberapa tahun yang lalu. Memang beda dengan dunia training (indoor dan outbound) yang selama ini saya tekuni. Kalau dalam dunia training, kita lebih banyak top down, tapi dalam dunia coaching kita banyak bottom up. Lebih banyak menggali daripada memberi. Lebih banyak bertanya daripada memberitahu.

    Namun beberapa orang merasa bahwa coaching menjadi tidak powerful ketika seorang coach asal bertanya. Malah terkesan ‘keppo’ dan ‘mbulet’. Memang seorang coach harus punya ilmu bagaimana cara bertanya yang benar, sehingga bisa menggiring ‘coachee’ untuk menemukan solusi. Ada beberapa cara bertanya yang harus anda pelajari, yang akan saya bahas dalam tulisan-tulisan saya berikutnya.

    Saya lanjutkan kembali apa beda Training dan Coaching ya…
    Kalau dalam dunia training, biasanya seorang trainer memposisikan diri sebagai subjek dan peserta training sebagai objek (trainer centris). Trainer sering memposisikan dirinya lebih pinter, lebih hebat, lebih sukses dan sejenisnya. Namun kalau dalam dunia coaching, prinsipnya adalah kesetaraan, bahkan cenderung ‘client centris’.

    Beda berikutnya, kalau training cenderung massal. Tapi kalau coaching cenderung personal. Semakin personal semakin maksimal. Kenapa semakin personal semakin maksimal? Ya kembali ke kodrat dari coaching itu sendiri: menggali, memfasilitasi dan mengkontrol. Kalau buanyak orang, pasti lebih puyeng. Hehe

    Kalau training, harus menunggu momen semua pesertanya bisa kumpul. Tapi kalau coaching, sendiri-sendiri juga bisa, sambil kerja pun bisa, tidak terikat dengan waktu dan kondisi tertentu. Maka kalau tujuannya sama-sama mengupgrade dan meningkatkan kinerja SDM, metode coaching jauh lebih efektif dibanding training; tapi belum tentu lebih efisien, terutama kaitannya dengan biaya.

    Kalau training, 1-2 trainer bisa handle ribuan orang. Tapi kalau coaching, tidak mungkin 1-2 coach bisa handle ribuan orang. Dari sinilah kita semakin tahu bahwa di masa depan profesi sebagai seorang coach sangat banyak dibutuhkan.

    Bagi anda yang mau sharing-sharing, belajar, atau mau menekuni profesi sebagai seorang coach, silakan klik www.askansetiabudi.com

    Salam STAR !

  • 3 Rahasia Sukses Brad Sugars

    Selamat Pagi….
    Para sahabat yang baik hati
    Selamat beraktifitas kembali
    Semoga Allah senantiasa merahmati

    Review nih
    Untuk upgrade energi

    SUKSES ITU ADA 3 CARANYA

    “When you’ll be in 5 years time will depend on the BOOKS YOU READ, the PEOPLE YOU ASSOCIATE with, and the ACTION YOU TAKE” (Brad Sugars, International Coach)

    Sahabat, kita semua pasti sepakat, bahwa kita bisa seperti sekarang, adalah dikarenakan ilmu-ilmu yang kita pelajari sebelumnya. Baik itu ilmu dari sekolah, kampus, seminar, workshop, buku, film, radio, televisi dan sebagainya.

    Tanpa inputan dari ilmu-ilmu tersebut, kita belum tentu bisa meraih prestasi-prestasi seperti saat ini. Pembandingnya gampang, cobalah anda ke pelosok desa yang jauuuh dari berbagai sumber ilmu. Lalu carilah orang yang seusia dengan anda, dan cobalah berdialog dengan mereka, lihat prestasi-prestasi mereka. Pasti beda bukan?

    Maka kalau kita mau lebih sukses dari sekarang, kita harus punya agenda khusus untuk meningkatkan level keilmuan kita. Tentunya ilmu yang mendukung tercapainya goal kita.

    Misalnya bagi anda yang ingin meningkatkan level bisnis anda, maka anda dan tim anda harusnya mengagendakan waktu, biaya dan tenaga untuk hadir di Professional Business Coaching Program Led by Dr. Fahmi. Dijamin deh insyaAllah 1-5 tahun lagi bisnis anda akan naik levelnya, puluhan hingga ratusan kali.

    Beberapa orang yang sudah membuktikan kedahsyatan program ini, antara lain: Coach Jamil Azzaini, setelah mengikuti program ini, Akademi Trainer yang beliau kelola menjadi semakin efisien dalam biaya, semakin jelas target marketnya, semakin mudah untuk menclosing klien-kliennya. Coach Nanang, owner Ayam Nelongso yang selalu berbahagia ini, omsetnya naik dari 1,2 M menjadi 2 M dalam hitungan 2-3 bulan. Coach Sulaiman, pemilik suplier pakan ayam di Malang, omsetnya naik dari 500 ton menjadi 700 ton dalam 1-2 bulan. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

    Di program ini anda juga bisa membangun assosiasi dengan ratusan pengusaha dari sabang sampai merauke, bahkan asia tenggara. Assosiasi yang saling menguntungkan dan menguatkan. Assosiasi yang bisa meleverage bisnis dan personal anda.

    Ingat kata Nabi: “Kalau kita berkumpul dengan penjual minyak wangi, niscaya kita akan wangi. Tapi kalau kita berkumpul dengan pandai besi, niscaya akan kena percikan api.”

    Namun, 2 resep diatas (ilmu dan assosiasi) tidak akan pernah bisa menghasilkan kesuksesan apapun buat diri kita dan orang lain, kecuali kita mau ACTION, ACTION dan ACTION!

    Salam Grounded…

  • Are You Goals Worthy of You?

    Bagaimana kabar sahabat-sahabat coach yang semakin luar biasa? -atau biasa di luar?😀
    Semoga bisnis dan kebermanfaatan anda semakin membesar…..aamiin.

    Masih ingatkah anda dengan kalimat ini:
    “Are You Goals Worthy of You?”
    “Are Your Goals Big Enough and Grandiose Enough?”

    Yup, kalimat ini sempat membuat saya termenung cukup lama, ketika diucapkan dengan penuh energi oleh Master Coach Dr. Fahmi dalam workshop “Professional Business Coaching” yang diselenggakan oleh The Indonesian Board of Grounded Business Coaching.

    Saya berfikir, jangan-jangan selama ini goals saya kurang menantang, kurang besar dan kurang menggairahkan untuk saya raih. Sehingga effort yang saya keluarkan untuk meraihnya juga kurang. Adrenalin saya jadi kurang terpacu, sehingga kreatifitas saya tidak bisa mencapai klimaksnya; tidak bisa mencapai titik “out of the box”. Do You? 😊

    Sobat, goals adalah ibarat magnet dan kita adalah besinya. Semakin besar magnetnya, akan menjadikan besi semakin kuat tertarik olehnya. Walau ada rintangan sebesar apapun di depan besi, asal magnetnya lebih buesar, pasti besi akan tetap tertarik menuju magnet.

    Bagaimana dengan kita? Sudah seberapa besarkah impian kita? Sehingga segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan menjadi tidak bermakna. Ataukah selama ini kita takut bermimpi besar, karena kita takut dengan segala ‘resiko-resiko’ yang ada, dan kita enggan untuk ‘membayar harganya’.

    Memang harus ada harga yang dibayar di depan untuk meraih sebuah kesuksesan. Harus ada keringat yg diperas untuk meraih masa depan gemilang. Harus ada tulang yang dibanting untuk merealisasi harapan. Harus rela berselimut badai dan berbantal ombak untuk mencapai sebuah pulau impian…!

    Sobat, maukah anda berjalan kaki sepanjang lima kilometer? Pasti anda berfikir berkali-kali sebelum melakukananya. Untuk apa? Kenapa? Seperti tidak ada kerjaan saja!

    Kalau saya beritahukan kepada anda, bahwa di ujung perjalanan nanti akan ada pembagian uang sebesar 100 ribu, apakah anda masih mau berjalan sepanjang lima kilometer? “Waduh, kalau cuma 100 ribu sih mending saya tidur di rumah!” Saya yakin seperti itu jawaban anda.

    Tapi bagaimana jika diujung perjalanan, uang yang dibagi adalah 100 milyar? Wow, saya yakin anda bukan hanya berjalan, tapi anda akan berlari. Walaupun saat itu sedang tengah malam dan hujan badai, menyeberangi sungai, naik gunung, turun lembah, melewati kuburan, dan sebagainya, dan sejenisnya..

    Kenapa kita mau melakukan itu semua? Karena goalnya menantang, buesar dan menggairahkan!. Sudahkah anda dan tim anda memilikinya? Sudahkah anda dan tim anda mempunyai nyali untuk meraihnya?!

    Jika belum, anda dan tim anda harus hadir di salah satu workshop terbaik yang ada di planet ini: “Professional Business Coaching” yang dipersembahkan oleh The Indonesian Board of Grounded Business Coaching Led by Dr. Fahmi.

    Salam Grounded

  • STATUS INDAH YANG ‘MENGHILANGKAN’ LELAH

    Permisi…numpang lewat 😊

    Sharing Puenting dan Guenting 😀

    STATUS INDAH YANG ‘MENGHILANGKAN’ LELAH

    1 Okt 2015, tengah malam, di sebuah kota besar di negeri ini. Biasanya jam segini mata ini sudah mengantuk, apalagi setelah tiga hari melakukan business coaching yang cukup melelahkan, bersama happy coachee.😊

    Tapi status indah di FB itu telah ‘menghilangkan’ lelahku. Beberapa kali saya baca, saya analisa, lalu saya berkaca dan mencoba membuat beberapa rencana kerja untuk mengaplikasikannya. “Sukses Berkelanjutan: Meraih Sukses dengan Membantu Mewujudkan Sukses Orang Lain.” Begitu judul statusnya.

    Ketika saya masih aktif di bisnis MLM dan asuransi, sangat sering saya mendengar kalimat tersebut dari para upline dan senior saya. “Bantu downline anda untuk sukses, maka anda juga akan sukses. Bimbing mitra anda sampai meraih impiannya, maka anda pasti meraih impian anda. Dampingi agen anda sampai mencapai targetnya, maka andapun akan meraih target anda,” begitu motivasi dari para upline dan senior saya.

    Benar juga sih. Kan memang ada hubungan struktural antara downline dan upline, antara agen dan koordinator agen. Jadi kalau tim di bawahnya sukses, maka orang di atas tim tersebut juga akan sukses. Tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku, hehe….

    Tapi kalau di bisnis konvensional, ketika kita mendidik tim kita, kemungkinannya ada dua: mereka akan semakin membesarkan bisnis kita atau malah akan menjadi kompetitor, yang bisa ‘menghancurkan’ bisnis kita. Itu kalau kita mendidik tim kita, bagaimana jika kita mendidik orang lain? Tentunya ‘resikonya’ jauh lebih besar.

    Tapi bagi beliau, si penulis status indah itu, terserahlah apa yang nanti terjadi. Yang penting ketika kita menyebar kebaikan, kita pasti akan mendapat balasan kebaikan. “Hal jazaa’ul ihsan illal ihsan.” Tegas beliau, mengutip Surat Ar Rahman ayat 60.

    Memang saya sering melihat, beliau serius banget kalau mengajari orang lain. Seakan-akan semua yang tersimpan ingin dicurahkan, seakan-akan semua ilmunya ingin disalurkan. Tanpa takut ilmunya dicuri, tanpa takut muridnya bisa menjadi kompetitornya di kemudian hari. “Bantu orang lain meraih sukses, niscaya suksesmu berkelanjutan.”Pungkasnya di status indahnya.

    Maka di buku rencana kerja saya tulis dengan tinta tebal: Saya akan puaskan para coachee saya, melebihi apapun yang mereka berikan kepada saya. Saya akan besarkan School of Public Speaking saya, tanpa harus dihantui rasa takut akan munculnya trainer-trainer muda. Saya akan ajarkan apapun yang saya bisa kepada siapa saja, sampai mereka sukses! Sebelum malaikat bertanya kepada saya: KENAPA ANDA SEMBUNYIKAN ILMU YANG TUHAN BERIKAN KEPADA ANDA…?!

    Terimakasih Master Coach Dr. Fahmi. Atas status indahmu, yang telah ‘menghilangkan’ lelahku. Atas semua transferan ilmumu, yang insyaAllah kelak akan menjadi amal jariyah penerang kuburmu, pemberat mizan kebaikanmu.

    Semoga kami sebagai alumni The Indonesian Board of Grounded Business Coaching bisa semakin sukses dan menyukseskan orang lain. Bisa semakin besar dan membesarkan orang lain. Bisa semakin mulia dan memuliakan orang lain.

    Mohon do’anya selalu.
    Salam Grounded!

  • 3 YES, 3 NO: The Indonesian Board of Grounded Business Coaching

    Master Coach Fahmi dalam www.coachfahmi.com pernah menulis sebuah artikel tentang “Kebenaran dan Kebaikan itu Membutuhkan Juru Bicara.” Begitu membacanya saya langsung tergelitik, tergugah sekaligus juga tertampar.

    Bertahun-tahun saya telah belajar bagaimana menjadi orang baik sekaligus menjadi agen penyebar kebaikan, bagaimana menjadi cahaya sekaligus menjadi penyebar cahaya, bagaimana menjadi kader sekaligus menjadi leader. Tapi terus terang baru kali ini saya menemukan energi yang ‘menggetarkan’.

    Bagaimana tidak, dulu saya hanya berbekal ilmu, dalil dan analisa. Kalau toh ada business skill itupun tidak seberapa. Namun di kelas beliau, “The Indonesian Board of Grounded Business Coaching” saya mendapatkan hampir semuanya. 101 Business Model kelas dunia dan 25 Coaching Tools yang luar biasa.

    “Kebenaran dan Kebaikan itu Membutuhkan Juru Bicara!” Kalimat tersebut menjadikan bayangan saya menerawang jauh ke zaman para wali songo dahulu, dimana mereka adalah para “juru bicara kebaikan dan kebenaran”, tentunya dengan ‘business model’ dan ‘coaching tools’ yang disesuaikan dengan zamannya.

    Dan terbukti, mereka adalah cahaya yang mencahayai, mereka adalah dian yang menerangi, mereka adala energi yang menulari. Mereka adalah “juru bicara kebaikan dan kebenaran” di zamannya. Sehingga dengan izin Allah, mereka bisa membalik keadaan di Indonesia, dari jahiliyah menjadi berilmu, yang semula kafir menjadi beraqidah, yang awalnya gelap menjadi terang. Sampai kepada zaman kita sekarang…

    Pertinyiinnyi (pinjam kata-katanya Mr Tukul), apa yang bisa kita lakukan sekarang? Apakah kita bisa menjadi seperti para wali songo tersebut? Tentunya kita sesuaikan dengan zaman kita. Disinilah saya semakin yakin bahwa ‘mazhab’ Grounded Business Coaching ala Master Coach Fahmi akan menjadi ‘big waves’ dalam percaturan bisnis di Indonesia dan dunia. Gelombang besar “kebaikan dan kebenaran”.

    Bagi Anda yang pernah belajar Professional Coaching atau Professional Business Coaching, Anda pasti akan menilai bahwa cara-cara Master Coach Fahmi ini agak kurang lazim di dalam dunia Coaching. Karena dalam ‘pure coaching’ kurang/tidak diijinkan untuk nge-mix antara coaching, consulting, mentoring, training dan therapy dalam satu figur seorang coach. Seorang coach harus ganti baju kalau mau berubah peran menjadi seorang konsultan, mentor, trainer atau terapis. Atau, sebaiknya diserahkan ke figur yang lain.

    Namun dalam ‘mazhab’ Grounded Business Coaching ala Master Coach Fahmi, semua cara itu BENAR asal BERHASIL…!!! Hehe, itu yang sering beliau lontarkan ketika kami belajar dan konsultasi kepada beliau.

    Maka dari itu saya menulis tentang 3 YES (yang sebaiknya/seharusnya dilakukan) dan 3 NO (yang sebaiknya/seharusnya tidak dilakukan) kalau kita mau menjadi “Juru Bicara Kebenaran dan Kebaikan” dalam ‘mazhab’ Grounded Business Coaching seperti yang Master Coach Fahmi sampaikan:

    1 YES: Coach memiliki jenis bisnis yang sama dengan jenis bisnisnya coachee.

    Kalau bisa seorang coach juga memiliki jenis bisnis yang sama dengan jenis bisnisnya coachee. Sehingga dalam proses grounded business coaching yang terjadi adalah bukan hanya transfer knowledge, tapi juga transfer experience. Apalagi kalau bisnisnya coach dalam hal ini lebih sukses dari bisnisnya coachee, maka proses coaching akan jauh lebih mudah dan lancar. Karena ada unsur high trust dan authority figures.

    2 YES: Coach memiliki jenis bisnis yang berbeda dengan jenis bisnisnya coachee, namun coach mau masuk kedalam bisnisnya coachee, day by day.

    Inilah yang oleh Master Coach Fahmi disebut Grounded Business Coaching. Jadi seorang coach bukan hanya di atas menara gading, madeg pandito ratu. Hanya pintar bertanya, beremphati, menggali, memberi tugas dan sejenisnya. Tapi seorang coach harus ikut melihat, merasakan, terlibat dan hadir selama 24 jam dalam perjalanan bisnisnya coachee. Sehingga coach bisa betul-betul menjiwai ‘derita dan nestapa’nya si coachee. Sehingga proses ‘memberi’ solusinya itu konkrit aplikatif, bukan idealis teoritis.

    Maka ketika saya diajak oleh Coach Nanang untuk meng-coaching www.ayamgorengnelongso.com, maka saya pun ikut cangkrukan nemani karyawannya ketika briefing sampai jam 12 malam, saya amati apa yang menjadi aktifitas harian di lima oulet beliau, saya masuk ke proses pembuatan SOPnya dan sebagainya.

    Demikian juga ketika saya dipercaya untuk meng-coaching lembaga www.qisenglish.com milik Coach Lili dan Coach Farah. Saya datangi basecamp-nya yang jauuuh di ujung timur Surabaya. Saking jauhnya, sampai-sampai tidak ada angkutan kota yang lewat sana. Untung saja, begitu nyampai, langsung disambut senyum ceria oleh Coach Farah, jadi hilang deh rasa capek dan lelah, hahaha…

    Akhir bulan inipun saya ‘terpaksa’ harus terbang ke Jakarta, menemui sahabat saya, Coach Donny, owner www.fikaracademy.com. Grounded Business Coaching akan kami terapkan di ‘sekolah karakter’ tersebut. Dan masih banyak lagi klien-klien Grounded Business Coaching yang menjadikan saya jarang pulang beberapa minggu ini.

    Memang Grounded Business Coaching menjadikan kita capek, lelah dan butuh stamina yang prima. Baik stamina fisik, psikis dan rupiah, hehe. Dulu proses coaching seperti ini, bisa saya lakukan melalui telepon atau skype. Bahkan saya pernah melakukannya via WA, BBM dan SMS.

    Namun setelah ketemu Master Coach Fahmi, saya bertaubat! Memang menjadi “Juru Bicara” Grounded Business Coaching itu lelah, tapi bahagia. Penat, tapi semangat. Sakit, tapi tidak mematikan…!

    Walaupun, cara-cara selain Grounded Business Coaching tentunya juga sah-sah saja. Asalkan berhasil, maka itu benar….!

    3 YES: Ceburkan teman, kenalan, relasi dan siapa saja ke Grounded Business Coaching Program Led by Coach DR. Fahmi.

    Jadi kalau sahabat-sahabat enggan, belum mampu atau belum berkenan untuk melakukan Grounded Business Coaching, maka silakan menjadi “Juru Bicara Kebenaran dan Kebaikan” dengan cara mengajak teman, keluarga, relasi dan siapa saja untuk mengikuti Grounded Business Coaching Program Led by Coach DR. Fahmi. Tapi untuk bulan Oktober 2015 ini peserta sudah penuh loh. Silakan menghubungi Coach Heny (0856 4673 2123) untuk informasi lebih lengkap.

    1 NO: Jangan hanya pintar bertanya, jangan hanya pintar coaching tools

    Dalam ‘mazhab’ Grounded Business Coaching, kita sebagai seorang coach kurang/tidak diijinkan jika kita hanya pandai bertanya, mendengar, beremphati, menggali, menugasi dan sejenisnya kepada seorang coachee.

    2 NO: Jangan awam/hanya punya sedikit business tools

    Dalam ‘mazhab’ Grounded Business Coaching, sebagai seorang coach kita tidak boleh awam dalam hal business tools, problem solving dan berbagai solusi alternatif yg aplikatif untuk ‘memastikan’ kesuksesan si coachee.

    3 NO: Jangan di atas menara gading, madeg pandito ratu.

    Dalam ‘mazhab’ Grounded Business Coaching, seorang coach tidak boleh hanya menerima informasi secara sepihak dari seorang atau beberapa orang coachee. Karena bisa jadi informasi dari coachee belum mewakili keadaan yang sebenarnya, the map is not the territory dan bisa jadi masih terjadi deletion, distortion dan generalization dari coachee. Walaupun sudah kita lakukan proses confidentiality and credentiality.

    Jadi apapun masalahnya, solusinya Grounded Business Coaching……!

    Salam Grounded……..!!!

    Askan Setiabudi, CI, CT.NNLP

    (Chief Executive Service  Officer, The Indonesian Board of Grounded Business Coaching)